Kementerian Pertanian belakangan ini terus memantau uji coba metode tanam Hazton pada pertanaman padi di beberapa daerah. Metode ini masih dalam tahap ujicoba untuk menentukan kesesuaian lahan serta hal-hal teknis lain.
Seperti dikatakan Kepala Subdirektorat Padi Tadah Hujan dan Lahan Kering Direktorat Budidaya Serealia Ditjen Tanaman Pangan Kementan, Syafruddin RB, seperti dikutip dari Antara, tidak semua metode bisa diterapkan di Indonesia, karena perbedaan agroklimat serta iklim di tiap wilayah.
Sejumlah daerah yang sudah diujicoba metode tersebut adalah Lebak (Banten), Cianjur (Jawa Barat), Cilacap (Jawa Tengah), Nias (Sumatera Utara), serta sejumlah daerah dan tentunya di Kalimantan Barat sebagai daerah asal metode ini.
Di sejumlah daerah, dari penggunaan metode Hazton ini didapati hasil panen padi meningkat dari biasanya. Walau ada juga kasus hasil panennya justru menurun, seperti kasus di Cianjur dari biasanya hasil panen 5,6 ton per hektare turun menjadi 4,1 ton per hektare.
Pihak Kementan masih mencari penyebab turunnya produksi padi tersebut. Apakah karena standar operasional prosedur (SOP)-nya karena ini teknologi baru, iklim, atau penyebab lain.
Namun di daerah asal metode tersebut, Kalimantan Barat, dapat dihasilkan peningkatan gabah kering giling (GKG) berton-ton, hingga dihasilkan 15 ton per hektare.
Metode tanam Hazton dapat menjadi alternatif selain metode pengelolaan tanam terpadu (PTT) dan System of Rice Intensification (SRI).
Metode Hazton sendiri mulai diperkenalkan pada tahun 2012 di Kalimantan Barat. Istilah Hazton berasal dari singkatan dua penemu metode tersebut yaitu ‘Haz’ dari Ir H Hazairin MS dan “Ton” dari Anton Kamarudin SP MSi.
Teknik menanam padi dalam metode Hazton berbeda dengan cara yang biasa digunakan petani. Hal yang paling berbeda dari Hazton adalah metode penanaman padi ini yang menggunakan 20-30 bibit per lubang tanam. Mungkin ini tak lazim jika dibandingkan dengan metode lain, seperti SRI (dengan 1 bibit) ataupun cara konvensional yang menggunakan 3-5 bibit per lubang tanam. Diharapkan dengan menggunakan bibit yang banyak akan menjadi indukan yang produktif, tanpa harus konsentrasi pada pembentukan anakan lagi.
Tapi tentu saja tiap metode punya keunggulan dan kelemahan. Berikut ini beberapa keunggulan dan kelemahan metode Hazton.
Keunggulan metode Hazton adalah :
– Produksi tinggi
– Mudah dalam penanaman
– Tanaman cepat beradaptasi/tidak stres setelah tanam
– Relatif tahan terhadap hama keong mas dan orong-orong
– Sedikit atau bahkan tidak ada penyulaman dan penyiangan
– Umur panen lebih cepat
– Mutu gabah tinggi
– Prosentase beras pecah tergolong rendah
Sermentara kelemahannya adalah :
– Memerlukan tambahan benih dari biasanya, keperluan benih untuk metode hazton berkisar 100-125 kg/ha
– Karena tanaman rimbun, maka perlu dikawal dengan agencia hayati (imunisasi padi, penggunaan decomposer/sterilisasi lahan, dan bio fungisida).
– Perlu pupuk (organik/anorganik) tambahan dari dosis normal.
Demikian sekilah penjelasan mengenai metode Hazton. Dalam artikel kami berikutnya, akan dibahas lebih detail mengenai tahapan budidaya dengan menggunakan metode Hazton.
No comments:
Post a Comment