Thursday, November 24, 2016

Pola Tanam Model SRI

Pola tanam model SRI adalah cara bertanam padi kembali ke alam. Artinya, petani tidak lagi menggunakan pupuk kimia, tapi memanfaatkan jerami, limbah geraji, sekam, pohon pisang, pupuk kandang yang diolah untuk pupuk tanahnya. Lalu, bibit yang disemai tidak lagi 20 hari, melainkan tujuh hari tempat persemaian sederhana seperti memanfaatkan besek kecil.

Jika sebelumnya benih dibutuhkan 30 kg/ha, kini pola SRI cukup 7 kg/ha. Setelah itu, ditanam di sawah dengan biji tunggal (satu biji benih) saat usia benih tujuh hari dengan jarak 30 cm x 30 cm. 

Tidak banyak diberi air, lalu penyiangan dilakukan empat kali, pemberian pupuk alami hingga enam kali, pengendalian hama terpadu, dan masa panen saat usia 100 hari atau lebih cepat 15 hari dengan pola biasa. 

Menurut Kepala Dinas Pertanian Ciamis, Ir. Lukman, saat ini sudah 73 ha lahan yang memakai pola SRI. Rata-rata setiap panen mencapai 10 ton/ha dengan pola biasa hasil panen rata-rata hanya 4.5 ton/ha. Sungguh kenaikan yang cukup significant terjadi lonjakan produksi padi dengan pola SRI hingga 100%. Ini artinya, ada peluang besar dalam meningkatkan produksi pertanian padi dan juga ramah lingkungan.
Tahapan
1. Pupuk Organik sebanyak 4-8 ton/ha (tergantung kandungan organik sawah, bila kadar organik tanah sudah mencapai 2 % maka dengan pemupukan 1 ton/ha sudah mencukupi untuk menjaga keseimbangan kesuburan). Pupuk organik ditaburkan merata ke permukaan tanah. Setelah itu sawah dibajak sesuai dengan kedalaman akar padi sekitar 30 cm.

2. Setelah sawah dibajak selajutnya direndam dengan air selama seminggu untuk mengkondisikan pupuk organik jadi lebih matang dan menyebar di dalam tanah.

3. Setelah direndam 1 minggu sawah digaru agar kontur tanah merata untuk persiapan tanam. Pada saat bersamaan bibit padi mulai ditebar setelah diperam selama 4 hari sampai keluar akar.

4. Setelah digaru sawah digenangi air lagi sambil menunggu bibit umur 7-9 hari untuk siap tanam, 2 hari sebelum tanam air dikeluarkan dari sawah sampai kondisi tanah masih tetap basah tapi tidak tergenang air.

5. Sawah digarit dengan garis horizontal vertikal tegak lurus berjarak sama 25 cm x 25 cm.

6. Padi ditanam satu bibit perlubang.

7. Setalah dilakukan penggaritan padi ditanam tepat pada titik temu antara garis vertikal dan horisontal. Padi ditanam satu per satu atau dua dua sebagai cadangan untuk nyulam.
8. Setelah padi ditanam tanah dikondisikan basah tapi tidak tergenang agar transfer oksigen ke tanah terus berjalan dan aman dari gangguan keong emas. Pada awalnya padi nampak jarang dan kecil-kecil.

9. Pada Umur 15-20 hari dialakukan penyiangan pertama untuk membersihkan rumput dengan cara mekanis pakai landak diikuti tenaga manusia yang mencabut rumpuk yang berdekatan dengan batang padi. Bila setelah penyiangan pertumbuhan padi tampak tidak merata maka dilakukan penambahan pupuk majemuk agar pertumbuhan vegetatif padi optimalberanak banyak dan berbatang kuat.

10. Padi umur 30-35 hari dilakukan penyiangan kedua, bila padi tumbuh segar, hijiau dan batangnya kokoh maka setelah penyiangan tidak perlu dilakukan pemupukan tambahan

11. Padi Umur 30 Hari Padi siap panen

12. Setelah umur 40 hari padi sudah tampak tumbuh lebat dan pada umur 50 hari padi mulai berbunga. Padi dengan Pola Tanam SRI anaknya banyak bulirnya lebat untuk menjamin agar bijinya penuh berisi maka perlu pupuk daun. Agar produk SRI masih dalam Koridor Beras Organik maka disarankan menggunakan Biopestisida atau NanoGren agar produknya standard, merata dan tidak tercemar pestisida. Umur 95 hari padi siap panen.

Bertanam padi organik sistem SRI cukup bagus dilaksanakan demi keseimbangan ekologi dan menjaga stabilitas lingkungan.Pengembangan sistem Tanam metode SRI pada prinsipnya tidaklah mudah hal ini perlu diterapkan dan disosialisasikan pada tingkat petani.
Solusi Pertimbangan
Untuk merubah perilaku pola bercocok tanam metode SRI ini yang perlu kita pertimbangkan dan tentunya harus diperlukan solusinya adalah :

1. Pola/ Cara bercocok tani di tingkat petani sudah secara tradisi terbiasa dengan pola yang sudah ada, sehingga diperlukan energi yang cukup untuk merubah pola tersebut.

2. Pada kondisi awal pada taraf pembibitan/nurserry, ketidakyakinan petani akan keberhasilan dari pola tanam 1 pohon, sehingga pada umur 15 hst kalau tanaman padi tidak menunjukkan dampak yang significant, petani sudah memfonis usaha budidayanya gagal.

3. Pengaruh musim hujan dan ketersediaan air yang cukup melimpah, juga rawan tergenang air, dan ketakutan petani bahwa padi yang ditanam akan hanyut/terangkat karena akan tertimpa derasnya air hujan.

4. Disinyalir banyak dibeberapa tempat mengalami kegagalan dalam pola tanam ini, akhirnya secara efisien lebih cenderung menggunakan metode mix farming organik, dan dianggap lebih sukses. Hal ini perlu dilakukan adanya formula yang khusus dalam budidaya ini.

5. Masalah bibit/harga bibit petani tidak akan mempermasalahkan, tapi dengan melihat situasi yang ada, Sistem SRI Plus/Mix Rice Intensification (SRI-PTPO) perlu dilakukan kajian sesuai dengan sistem regionalisasi atau dengan melihat potensi lahan dan pengamatan cuaca.

5. Sistem SRI tidak bisa dilakukan general pada semua kondisi lahan, namun perlu ditentukan pemilihan lahan yang efektif sesuai pola SRI, hal ini efektifitas pola SRI dapat dilakukan pada lahan secara teknis irigasi/pengairan dapat dikendalikan,

6. Dianjurkan pada musim panca roba/kemarau dengan pengairan teknis yang memadai.

7. Akhirnya keberhasilan sistem SRI Organik, dengan memanfaatkan biomassa organik akan lebih berhasil dan bermanfaat, dengan memperhatikan hal hal berikut :

a. Pemilihan lahan yang sesuai
b. Diperhitungkan masalah musim, bila hujan terlalu tinggi akan mengurangi keberhasilan.
c. Penggunaan Saprodi secara organik dengan kapisitas disesuaikan dengan kondisi
ketesediaan unsur hara yang ada.
d. Pada masing=masing lokasi, pemakaian pola SRI baik pada kapasitas penggunaan Bibit, Pola tanam, dan teknis budidaya, dianjurkan memakai pola campuran (mix farming), yaitu Mix SRI dengan PPOP, SRI dengan Konvensional, PPOP dan Konvensional atau pola-pola bertani Organik padi, dengan perhitungan efisiensi, efektifitas dan ekonomis tercapai.

Wednesday, November 23, 2016

Petani padi untung besar, mereka gunakan metode seperti ini

Kementerian Pertanian belakangan ini terus memantau uji coba metode tanam Hazton pada pertanaman padi di beberapa daerah. Metode ini masih dalam tahap ujicoba untuk menentukan kesesuaian lahan serta hal-hal teknis lain.

Seperti dikatakan Kepala Subdirektorat Padi Tadah Hujan dan Lahan Kering Direktorat Budidaya Serealia Ditjen Tanaman Pangan Kementan, Syafruddin RB, seperti dikutip dari Antara, tidak semua metode bisa diterapkan di Indonesia, karena perbedaan agroklimat serta iklim di tiap wilayah.

Sejumlah daerah yang sudah diujicoba metode tersebut adalah Lebak (Banten), Cianjur (Jawa Barat), Cilacap (Jawa Tengah), Nias (Sumatera Utara), serta sejumlah daerah dan tentunya di Kalimantan Barat sebagai daerah asal metode ini.

Di sejumlah daerah, dari penggunaan metode Hazton ini didapati hasil panen padi meningkat dari biasanya. Walau ada juga kasus hasil panennya justru menurun, seperti kasus di Cianjur dari biasanya hasil panen 5,6 ton per hektare turun menjadi 4,1 ton per hektare.

Pihak Kementan masih mencari penyebab turunnya produksi padi tersebut. Apakah karena standar operasional prosedur (SOP)-nya karena ini teknologi baru, iklim, atau penyebab lain.

Namun di daerah asal metode tersebut, Kalimantan Barat, dapat dihasilkan peningkatan gabah kering giling (GKG) berton-ton, hingga dihasilkan 15 ton per hektare.

Metode tanam Hazton dapat menjadi alternatif selain metode pengelolaan tanam terpadu (PTT) dan System of Rice Intensification (SRI).

Metode Hazton sendiri mulai diperkenalkan pada tahun 2012 di Kalimantan Barat. Istilah Hazton berasal dari singkatan dua penemu metode tersebut yaitu ‘Haz’ dari Ir H Hazairin MS dan “Ton” dari Anton Kamarudin SP MSi.

Teknik menanam padi dalam metode Hazton berbeda dengan cara yang biasa digunakan petani. Hal yang paling berbeda dari Hazton adalah metode penanaman padi ini yang menggunakan 20-30 bibit per lubang tanam. Mungkin ini tak lazim jika dibandingkan dengan metode lain, seperti SRI (dengan 1 bibit) ataupun cara konvensional yang menggunakan 3-5 bibit per lubang tanam. Diharapkan dengan menggunakan bibit yang banyak akan menjadi indukan yang produktif, tanpa harus konsentrasi pada pembentukan anakan lagi.

Tapi tentu saja tiap metode punya keunggulan dan kelemahan. Berikut ini beberapa keunggulan dan kelemahan metode Hazton.

Keunggulan metode Hazton adalah :
– Produksi tinggi
– Mudah dalam penanaman
– Tanaman cepat beradaptasi/tidak stres setelah tanam
– Relatif tahan terhadap hama keong mas dan orong-orong
– Sedikit atau bahkan tidak ada penyulaman dan penyiangan
– Umur panen lebih cepat
– Mutu gabah tinggi
– Prosentase beras pecah tergolong rendah

Sermentara kelemahannya adalah :
– Memerlukan tambahan benih dari biasanya, keperluan benih untuk metode hazton berkisar 100-125 kg/ha
– Karena tanaman rimbun, maka perlu dikawal dengan agencia hayati (imunisasi padi, penggunaan decomposer/sterilisasi lahan, dan bio fungisida).
– Perlu pupuk (organik/anorganik) tambahan dari dosis normal.

Demikian sekilah penjelasan mengenai metode Hazton. Dalam artikel kami berikutnya, akan dibahas lebih detail mengenai tahapan budidaya dengan menggunakan metode Hazton.

Bibit padi unggul tahan hama wereng

INPARI 18

Hama wereng batang cokelat telah mengancam produksi padi di berbagai negara di dunia sejak tahun 1970an. Dalam periode 2010-2013, ledakan hama wereng merusak lebih dari 3 juta ha padi di Thailand, 0,5 juta ha di Indonesia, dan 1,5 juta ha per tahun di China.

Tanpa pengendalian, hama yang berbahaya ini dapat menggagalkan panen padi. Pengendalian dengan insektisida terbukti merusak lingkungan dan memicu ledakan serangan.

Penyebab berkembangnya hama wereng cokelat antara lain perubahan biotipe dan penanaman varietas rentan. Varietas unggul yang semula dinyatakan tahan hama wereng cokelat, beberapa musim kemudian berubah tingkat ketahanannya, sehingga perlu diganti dengan varietas unggul baru yang bereaksi tahan.

Badan Litbang Pertanian telah melepas beberapa varietas unggul baru padi tahan wereng cokelat, antara lain Inpari 18, Inpari 19, Inpari 31, Inpari 33, Inpari 34 Salin Agritan, dan Inpari 35 Salin Agritan.

Berikut, karakteristik varietas-varietas baru padi unggul tahan wereng batang coklat tersebut, yang dikutip dari LitbangPertanian.com.

Inpari 18
Mampu berproduksi hingga 9,5 t/ha dengan rata-rata 6,7 t/ha, umur genjah 102 hari, tekstur nasi pulen dengan kadar amilosa 18%. Selain tahan hama wereng cokelat biotipe 1, 2, dan agak tahan biotipe 3, Inpari 18 juga tahan penyakit hawar daun bakteri patotipe III dan agak tahan patotipe IV. Padi unggul ini cocok dikembangkan pada lahan sawah irigasi dan tadah hujan dengan ketinggian tempat 0-600 m dari permukaan laut (dpl).

Inpari 19
Memiliki potensi hasil 9,5 t/ha dengan rata-rata 6,7 t/ha, umur genjah 104 hari, tekstur nasi pulen dengan kadar amilosa 18%. Tahan terhadap hama wereng cokelat biotipe 1, 2, dan agak tahan biotipe 3, padi unggul ini juga tahan penyakit hawar daun bakteri patotipe III dan agak tahan patotipe IV. Inpari 19 sesuai ditanam pada lahan sawah irigasi dan tadah hujan dengan ketinggian lokasi pengembangan 0-600 m dpl.

Inpari 31
Berpotensi hasil 8,5 t/ha dengan rata-rata 6,0 t/ha, umur 112 hari, tekstur nasi pulen dengan kadar amilosa 21,1%. Tahan terhadap hama wereng cokelat biotipe 1, 2, dan 3, padi unggul baru ini juga tahan penyakit hawar daun bakteri patotipe III, tahan penyakit blas ras 033, dan tahan penyakit tungro ras Lanrang. Inpari 31 cocok dikembangkan pada lahan sawah dataran rendah sampai ketinggian lokasi 600 m dpl.

Inpari 33
Mampu berproduksi 9,8 t/ha dengan rata-rata 6,6 t/ha, umur 107 hari, tekstur nasi sedang dengan kadar amilosa 23,4%. Tahan terhadap hama wereng cokelat biotipe 1, 2, dan 3, padi unggul baru ini juga tahan penyakit hawar daun bakteri protipe III, dan tahan penyakit blas ras 073. Inpari 33 sesuai dikembangkan pada lahan sawah dataran rendah sampai ketinggian lokasi 600 m dpl dan tidak dianjurkan ditanam pada lahan sawah endemik penyakit tungro.

Inpari 34 Salin Agritan
Berumur genjah 102 hari dengan potensi hasil 8,1 t/ha, rata-rata 6,0 t/ha, tekstur nasi agak pera dengan kadar amilosa 22,8%. Tahan terhadap hama wereng cokelat biotipe 1, varietas unggul baru ini juga tahan penyakit blas ras 033 dan 173, toleran salinitas, dan dapat dikembangkan pada lahan sawah dataran rendah sampai ketinggian lokasi 500 m dpl.

Inpari 35 Salin Agritan
Berpotensi hasil 8,3 t/ha, umur 106 hari, tekstur nasi agak pera dengan kadar amilosa 24%. Agak tahan terhadap wereng cokelat biotipe 1, padi unggul baru ini juga tahan penyakit blas ras 073, dan tidak dianjurkan ditanam pada lahan sawah endemik tungro.o

Saturday, November 5, 2016

4 Cara perawatan jagung manis

Perawatan jagung manis terbilang gampang gampang susah, Karena jagung manis ini sangat di suka oleh jenis hama tikus dan hama pengerat jaguing lainnya. Untuk memaksimalkan agar hasil bisa banyak dan menguntungkan . Maka ikutilah langkah langkah diantara :

1.Penyulaman Tanaman

Setelah benih ditanam berusia satu minggu, cek pertumbuhan tanaman jagung manis Anda. Gantilah beberapa bibit yang tidak tumbuh sempurna dengan bibit yang baru untuk menghasilkan pertumbuhan tanaman yang seragam. Cara menanam jagung manis pada tahap ini dinamakan sebagai tahap penyulaman tanaman.


2. Penyiangan dan Pembumbunan Tanaman

Setelah tanaman berusia 2 minggu sejak masa tanam, bersihkan rumput – rumput liar yang tumbuh disekitar tanaman dengan cara dicabut menggunakan tangan maupun dengan cangkul kecil. Membersihkan gulma dengan cara alami dan tidak menggunakan pestisida adalah cara menanam jagung manis yang lebih dilanjurkan untuk hasil panen yang maksimal.

Lakukan juga pembumbunan tanaman agar batang tanaman tidak mudah roboh dengan cara mengumpulkan tanah-tanah disekitar tanaman ke arah akar tanaman jagung manis hingga terbentuk gundukan tanah untuk menguatkan tanaman. Proses pembumbunan dalam cara menanam jagung manis dapat dilakukan setelah tanaman berusia kurang lebih 1 bulan setelah ditanam.


3. Penyiraman

Cara menanam jagung manis setelah beberapa tahap diatas, juga diperlukan tindakan penyiraman secara rutin terlebih jika menghadapi musim kemarau. Tujuan dari penyiraman itu sendiri adalah untuk menjaga kelembaban lahan dan agar tanaman tidak kekurangan kadar air yang dibutuhkan tanaman untuk proses pertumbuhan.


4. Pemupukan Susulan

Lahan juga perlu dilakukan pemupukan sususan dengan menggunakan pupuk kandang maupun bubuk buatan untuk menjaga keadaan tanah tetap subur dan kaya akan unsur hara. Cara menanam jagung manis untuk tahap pemupukan sususlan tersebut dapat dilakukan pada saat usia tanaman jagung berumur 2 bulan sejak benih ditanam.