2. Setelah sawah dibajak selajutnya direndam dengan air selama seminggu untuk mengkondisikan pupuk organik jadi lebih matang dan menyebar di dalam tanah.
3. Setelah direndam 1 minggu sawah digaru agar kontur tanah merata untuk persiapan tanam. Pada saat bersamaan bibit padi mulai ditebar setelah diperam selama 4 hari sampai keluar akar.
4. Setelah digaru sawah digenangi air lagi sambil menunggu bibit umur 7-9 hari untuk siap tanam, 2 hari sebelum tanam air dikeluarkan dari sawah sampai kondisi tanah masih tetap basah tapi tidak tergenang air.
5. Sawah digarit dengan garis horizontal vertikal tegak lurus berjarak sama 25 cm x 25 cm.
6. Padi ditanam satu bibit perlubang.
7. Setalah dilakukan penggaritan padi ditanam tepat pada titik temu antara garis vertikal dan horisontal. Padi ditanam satu per satu atau dua dua sebagai cadangan untuk nyulam.
8. Setelah padi ditanam tanah dikondisikan basah tapi tidak tergenang agar transfer oksigen ke tanah terus berjalan dan aman dari gangguan keong emas. Pada awalnya padi nampak jarang dan kecil-kecil.
9. Pada Umur 15-20 hari dialakukan penyiangan pertama untuk membersihkan rumput dengan cara mekanis pakai landak diikuti tenaga manusia yang mencabut rumpuk yang berdekatan dengan batang padi. Bila setelah penyiangan pertumbuhan padi tampak tidak merata maka dilakukan penambahan pupuk majemuk agar pertumbuhan vegetatif padi optimalberanak banyak dan berbatang kuat.
10. Padi umur 30-35 hari dilakukan penyiangan kedua, bila padi tumbuh segar, hijiau dan batangnya kokoh maka setelah penyiangan tidak perlu dilakukan pemupukan tambahan
11. Padi Umur 30 Hari Padi siap panen
12. Setelah umur 40 hari padi sudah tampak tumbuh lebat dan pada umur 50 hari padi mulai berbunga. Padi dengan Pola Tanam SRI anaknya banyak bulirnya lebat untuk menjamin agar bijinya penuh berisi maka perlu pupuk daun. Agar produk SRI masih dalam Koridor Beras Organik maka disarankan menggunakan Biopestisida atau NanoGren agar produknya standard, merata dan tidak tercemar pestisida. Umur 95 hari padi siap panen.
1. Pola/ Cara bercocok tani di tingkat petani sudah secara tradisi terbiasa dengan pola yang sudah ada, sehingga diperlukan energi yang cukup untuk merubah pola tersebut.
2. Pada kondisi awal pada taraf pembibitan/nurserry, ketidakyakinan petani akan keberhasilan dari pola tanam 1 pohon, sehingga pada umur 15 hst kalau tanaman padi tidak menunjukkan dampak yang significant, petani sudah memfonis usaha budidayanya gagal.
3. Pengaruh musim hujan dan ketersediaan air yang cukup melimpah, juga rawan tergenang air, dan ketakutan petani bahwa padi yang ditanam akan hanyut/terangkat karena akan tertimpa derasnya air hujan.
4. Disinyalir banyak dibeberapa tempat mengalami kegagalan dalam pola tanam ini, akhirnya secara efisien lebih cenderung menggunakan metode mix farming organik, dan dianggap lebih sukses. Hal ini perlu dilakukan adanya formula yang khusus dalam budidaya ini.
5. Masalah bibit/harga bibit petani tidak akan mempermasalahkan, tapi dengan melihat situasi yang ada, Sistem SRI Plus/Mix Rice Intensification (SRI-PTPO) perlu dilakukan kajian sesuai dengan sistem regionalisasi atau dengan melihat potensi lahan dan pengamatan cuaca.
5. Sistem SRI tidak bisa dilakukan general pada semua kondisi lahan, namun perlu ditentukan pemilihan lahan yang efektif sesuai pola SRI, hal ini efektifitas pola SRI dapat dilakukan pada lahan secara teknis irigasi/pengairan dapat dikendalikan,
6. Dianjurkan pada musim panca roba/kemarau dengan pengairan teknis yang memadai.
7. Akhirnya keberhasilan sistem SRI Organik, dengan memanfaatkan biomassa organik akan lebih berhasil dan bermanfaat, dengan memperhatikan hal hal berikut :
a. Pemilihan lahan yang sesuai
b. Diperhitungkan masalah musim, bila hujan terlalu tinggi akan mengurangi keberhasilan.
c. Penggunaan Saprodi secara organik dengan kapisitas disesuaikan dengan kondisi
ketesediaan unsur hara yang ada.
d. Pada masing=masing lokasi, pemakaian pola SRI baik pada kapasitas penggunaan Bibit, Pola tanam, dan teknis budidaya, dianjurkan memakai pola campuran (mix farming), yaitu Mix SRI dengan PPOP, SRI dengan Konvensional, PPOP dan Konvensional atau pola-pola bertani Organik padi, dengan perhitungan efisiensi, efektifitas dan ekonomis tercapai.